Kembangkan Resiliensi untuk Bertahan Hidup

Pernahkah terlintas di benakmu, sebenarnya ada gak sih manusia yang hidup tanpa masalah? Oh jawabannya tentu tidak. Tiap manusia di seluruh penjuru dunia pasti pernah menemui banyak masalah, hambatan, dan rintangan. Ada sebagian orang yang harus berjuang untuk meraih cita-cita di tengah perekonomian keluarga yang tidak mendukung. Ada juga yang harus berjuang hidup dari krisis di negaranya sehingga mereka nekat mencari perlindungan di negara lain dan akhirnya terdampar di pesisir pantai tanpa persediaan sandang dan pangan. Ada pula yang harus merelakan kepergian orang tercinta dengan meninggalkan kenangan manis yang sulit dilupakan. Beberapa orang lainnya mungkin sedang bergumul melewati peristiwa traumatik akibat kecelakaan, bencana, dan peristiwa lainnya yang memilukan.

Pernahkah terlintas di benakmu, sebenarnya ada gak sih manusia yang hidup tanpa masalah? Oh jawabannya tentu tidak. Tiap manusia di seluruh penjuru dunia pasti pernah menemui banyak masalah, hambatan, dan rintangan. Ada sebagian orang yang harus berjuang untuk meraih cita-cita di tengah perekonomian keluarga yang tidak mendukung. Ada juga yang harus berjuang hidup dari krisis di negaranya sehingga mereka nekat mencari perlindungan di negara lain dan akhirnya terdampar di pesisir pantai tanpa persediaan sandang dan pangan. Ada pula yang harus merelakan kepergian orang tercinta dengan meninggalkan kenangan manis yang sulit dilupakan. Beberapa orang lainnya mungkin sedang bergumul melewati peristiwa traumatik akibat kecelakaan, bencana, dan peristiwa lainnya yang memilukan. Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa ya di antara orang yang mengalami peristiwa tersebut, ada yang berhasil melewatinya dengan tabah dan ada yang tidak? Bahkan ada orang yang sampai rela mengakhiri nyawanya untuk mengakhiri segala penderitaan yang ia rasakan. Organisasi kesehatan Dunia (World Health Organisation) bahkan memprediksi bahwa depresi akan menjadi penyebab disabilitas no 2 di dunia pada tahun 2020 (WHO, 2001). Depresilah yang menyebabkan kasus bunuh diri di antara anak muda terjadi.

Lalu kemampuan apa sih yang harus kita miliki agar kita kuat menghadapi segala macam cobaan hidup? Jawabannya adalah resiliensi. Secara sederhana, resiliensi adalah kemampuan manusia untuk bertahan hidup dan berkembang di tengah hambatan yang menghadang. Dengan mengembangkan resiliensi, kita bisa terlindung dari segala macam gangguan psikologis seperti depresi dan kecemasan. Resiliensi juga dapat membantu sesorang pulih dari trauma di masa lalu.

Resiliensi adalah sebuah proses. Resiliensi bukan merupakan sebuah sifat alami yang lahir dari seseorang. Resiliensi bisa dimiliki oleh siapa aja yang mau mempelajari dan melatihnya dalam kehidupan sehari-hari. Apabila kita tidak punya resiliensi, kita akan terus-menerus mengungkit masalah, merasa seolah-olah kita selalu menjadi korban atas peristiwa yang malang dan memilukan, tidak tahu harus bagaimana saat menghadapi masalah, dan bahkan kita malah akan mencari cara keliru dan gaya hidup tidak sehat untuk mengalihkan masalah, seperti penyalahgunaan napza.Untuk melatih dan mengembangkan resiliensi, bisa diawali dengan membuat beberapa perubahan gaya hidup seperti di bawah ini:

  • Berlatihlah untuk menjadi orang yang terus terang dan tegas dalam berkomunikasi dengan orang lain. Apabila orang lain membuat tuntutan yang tidak masuk akal atau tidak realistik terhadap dirimu, bersiagalah untuk memberitahu mereka apa yang kamu rasakan dan beranikan dirimu untuk berkata tidak.Gunakan teknik relaksasi yang bisa membuat kamu rileks, seperti mandi, mendengarkan musik, atau menghabiskan waktu bersama hewan peliharaanmu.
  • Temukan keseimbangan dalam hidupmu. Bagilah energi dan waktumu ke dalam beberapa aspek kehidupan lainnya seperti keluarga, teman, atau waktu untuk diri sendiri. Ingat, boleh saja kamu bekerja keras tapi jangan sampai kamu diperbudak oleh pekerjaan atau sekolah dirimu sendiri!
  • Perhatikan lingkungan dan apa yang kamu lakukan di sekitarmu. Di tengah kesibukan, coba perhatikanlah pemandangan di luar sana yang menakjubkan, rasakan sensasinya. “live the moment”, artinya hadir seutuhnya di tiap detik hidupmu tanpa resah.  Lupakan sejenak harapan yang tak kunjung pasti dan bersyukurlah. Perhatikan perubahan yang terjadi di areamu.
  • Aktiflah memberikan sesuatu yang baik dan positif kepada setiap orang disekitarmu. Jangan lupa untuk mengucapkan terima kasih. Berikan waktu untuk ikut acara sosial. Bergabunglah dalam komunitas yang kamu minati.
  • Teruslah belajar! Cobalah sesuatu yang baru. Pelajarilah hal baru yang akan membuat kamu lebih percaya diri dan menjadi pribadi yang menyenangkan. Temukan kembali minat positif yang terpendam. Atau kamu juga bisa mengambil tanggung jawab yang berbeda di tempat kerja. Tetapkan target sesuai minat dan kemampuan.
  • Kembangkan minat dan hobi. Apabila stres membuatmu merasa kesepian atau terisolasi, menjalankan hobi yang bisa dilakukan oleh beberapa orang (seperti olah raga sepak bola, basket) juga bisa merupakan cara yang baik untuk bertemu dengan orang baru. Tapi ingat semua hobi harus disesuaikan dengan kemampuan.

 

REFERENSI :
Embrace the future Organisation. (2005). What is resiliency. Diunduh pada 16 September 2015 dari http://www.embracethefuture.org.au/resiliency/index.htm
Mayo Clinic. Resilience: Build Skills To Endure Hardship. Diunduh pada 16 September 2015 dari http://www.mayoclinic.org/tests-procedures/resilience-training/in-depth/resilience/art-20046311
Mind. (2015). How can I be more resilient. Diunduh pada 16 September 2015 dari http://www.mind.org.uk/information-support/tips-for-everyday-living/stress/developing-resilience
PBS. What is resilient. Diunduh pada 16 September 2015 dari http://www.pbs.org/thisemotionallife/topic/resilience/what-resilience
World Health Organization (2001). The World Health Report 2001. Mental Health. New Understanding. New Hope. Geneva WHO
Nama Penulis

Penulis: Kitty Ariane S.Psi